Kel. Gubukusuma Mengelar Legu Dou

Pagelaran Budaya Tidore yang dikemas dalam even Legu Dou kembali digelar di Kelurahan Gubukusuma Kecamatan Tidore Utara. Legu Dou yang dilaksanakan masyarakat lingkungan Bua-bua Kelurahan Gubukusuma, selasa (16/2) kemarin telah memasuki usianya yang ke 43.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Sultan Tidore, H Husain Syah dan dihadiri Assisten Tata Pemerintahan Drs. Ridwan M. Halil mewakili Pemerintah Kota Tidore Kepulauan, hadir juga Para Bobato adat Kesultanan Tidore, Lurah Gubukusuma, serta warga masyarakat sekitarnya.

Sultan Tidore dan Asisten bersama rombongan tiba di lokasi upacara disambut dengan prosesi Koro se Dola dan dilanjutkan dengan prosesi Kabata.

Dalam Upacara Legu Dou ini, para tetua adat melakukan ritual mengelilingi meja yang dikreasikan seperti perahu dihias janur kelapa. diatas meja diletakkan berbagai macam hasil olahan jagung. Hal ini menandakan rasa syukur hasil panen yang melimpah seraya berdoa agar kegiatan bercocok tanam yang akan datang memperoleh hasil yang lebih baik lagi. Seusai pelaksanaan upacara, anak-anak kecil beramai-ramai memperebutkan makanan yang telah didoakan oleh tetua adat.

            Sultan Tidore dalam sambutanya menyampaikan Legu Dou merupakan sebagian salah satu bentuk rasa syukur kita kepada Yang Maha Kuasa atas segala nikmat dan karuniah yang telah diberikan kepada kita, untuk itu, “tugas kita selanjutnya yaitu tetap mempertahankan dan tetap menjaga warisan Leluhur yang telah ditinggalkan orang tua kita dulu, salah satunya Legu dou ini”. tutur Husain Syah.  

Sementara itu dalam Sambutan Pj. Walikota yang dibacakan Ridwan Halil menyampaikan, Kota Tidore Kepulauan memiliki begitu banyak khasanah tradisi, yang bersumber dari keanekaragaman budaya yang terangkai dalam jalinan Masyarakat Berkarakter Budi Se Bahasa, Ngaku Se Rasai, Cing Se Cingari Dalam Bingkai Loa Se Banari. Bertemunya berbagai akar budaya menjadi kekayaan yang sangat berharga bagi kota Tidore Kepulauan. Menciptakan mozaik budaya yang sangat indah dan menjadi kekuatan budaya yang luar biasa.

Ridwan menambahkan, dia bersyukur dan berterimah kasih kepada masyarakat adat Tidore yang telah bekerja dengan baik selama ini untuk terus mengembangkan minat dan bakat generasi muda terhadap seni budaya. “Saya berharap upaya-upaya itu terus ditingkatkan agar proses transfer nilai-nilai budaya itu dapat dilakukan dengan baik antar generasi”. kata Ridwan.

Sementara itu Ketua Panitia Legu Dou, Arif Soleman dalam laporannya menjelaskan bahwa Upacara Legu Dou dimaksudkan sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen pertanian yang merupakan mata pencaharian pokok sebagian besar masyarakat Gubukusuma, sekaligus bertujuan memperkenalkan budaya kearifan lokal yang terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai salah satu ikon pariwisata Kota Tidore Kepulauan.

Legu Dou ini juga dimaksudkan untuk merayakan panen yang dilakukan 98 kepala keluarga yang menggarap lahan seluas 6 hektare dan menghasilkan komoditi tunggal yaitu tanaman jagung. Seusai pelaksanaan Upacara Legu Dou, Sultan Tidore dengan jajaran pemerintah mengikuti jamuan makan yang semua bahan makanannya terbuat dari jagung.

Ungkapkan aspirasi anda baik dukungan, keluhan, ide, atau pengaduan anda dalam halaman Aspirasi Masyarakat. Anda juga dapat menyebarkan dan mendukung aspirasi masyarakat lain.